A.Awal Bardirinya Dinasti Abbasiyah

Dinasti Bani Abbasiyah merupakan kelanjutan dari kekuasaan Dinasti Bani Umayyah. Dinamakan Dinasti Bani Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini keturunan Abbas, paman nabi Muhammad Saw. Dinasti Bani Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H. Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan Dinasti Abbasiyah berlangsung dari tahun 132 H (750 M)- 656 H (1258 M).

Pada abad ke-7 terjadi pemberontakan diseluruh negeri. Pemberontakan paling dasyat dan merupakan puncak dari segala pemberontakan yakni perang antara Abu Abbas melawan pasukan Marwan ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah). Abu Abbas dan pengikutnya telah berhasil mengeksekusi seluruh anggota keluarga besar Khalifah Dinasti Umayyah yang terguling serta para pembesarnya, tetapi juga meratakan kuburan Bani Umayyah dengan tanah. Oleh karena itu, dia mendapat gelar as-Saffah (si penumpah darah)

B. Sistem Pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah

Pada Masa Dinasti Abbasiyah konsep kekhalifahan berkembang sebagai sistem politik. Menurut pandangan para pemimpin Bani Abbasiyah, kedaulatan yang ada pada pemerintahan (Khalifah) adalah berasal dari Allah, bukan dari rakyat sebagaimana diaplikasikan oleh abu Bakar dan Umar pada masa Khalifahurrasyidin. Hal ini dapat dilihat dengan perkataan khalifah Al-Mansur, ”saya adalah sultan tuhan di atas buminya.”

Pada Masa Dinasti Bani Abbasiyah pola pemerintahan yang di terapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, ekonomi dan budaya. Sistem politik yang dijalankan oleh Dinasti Bani Abbasiyah antara lain:

  1. Para Khalifah tetap keturunan Arab, sedangkan para menteri, panglima, gubernur dan pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan Mawali.
  2. Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang dijadikan sebagai pusat politik, sosial, ekonomi dan budaya.
  3. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting dan mulia.
  4. Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya.
  5. Para menteri keturunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya dalam pemerintahan.

Dalam menjalankan pemerintahan, Khalifah Dinasti Bani Abbasiyah pada waktu itu dibantu oleh wazir (perdana menteri) yang jabatannya disebut wizaraat. Wizaraat ini dibagi menjadi 2 yaitu :

  1. Wizaraat Tanfiz (sistem pemerintahan presidentil) yaitu wazir hanya sebagai pembantu Khalifah dan bekerja atas nama Khalifah.
  2. Wizaaratul Tafwidl (parlemen kabinet) yaitu wazir yang berkuasa penuh untuk memimpin pemerintahan. Sedangkan Khalifah sebagai lambang saja.

Selain itu untuk membantu Khalifah dalam menjalankan tata usaha negara diadakan sebuah dewan bernama diwanul kitabah (sekretariat negara) yang dipimpin oleh seorang raisul kuttab (sekretaris negara). Dan dalam menjalankan pemerintahan negara, wazir di bantu oleh beberapa raisul diwan (menteri departemen-departemen). Tata usaha negara bersifat sentralistik yang dinamakan an-nidhamul idary al-markazy. Selain itu pada Masa Dinasti Bani Abbasiyah juga didirikan angkatan perang, amirul umara, baitul maal dan organisasi kehakiman.

About these ads