Dinasti Bani Abbasiyah adalah salah satu Dinasti Islam yang paling lama berkuasa. Lebih dari 5 abad dan pernah mewujudkan zaman keemasan umat Islam. Para sejarawan membagi masa pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah menjadi lima periode berdasarkan ciri-cirinya, perubahan struktur pemerintahan dan struktur sosial politik maupun tahapan perkembangan peradaban yang telah dicapai.

1. Periode Pertama (750-847 M)

Periode pertama Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari masa kekuasaan Abu Abbas menjadi Khalifah (132 H (750 M) sampai meninggalnya al-Watsiq yang berlangsung selama satu abad. Pada periode ini, Dinasti Bani Abbasiyah mengalami banyak kemajuan dan mencapai masa keemasan. Secara politis, para Khalifah betul-betul merupakan tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam.

Namun saat orang-orang Turki yang diberi kesempatan dalam pemerintahan dan ketentaraan mulai mencoba mendominasi dan mempengaruhi kebijakan Khalifah. Untuk menghindari hal itu, Khalifah al-Watsiq memindahkan pusat pemerintahan dari Baghdad ke Samarra.

Dari gambaran di atas Dinasti Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Umayyah. Disamping itu, ada pula ciri-ciri yang menonjol Dinasti Bani Abbasyiah yang tidak terdapat pada Dinasti Bani Ummayah, yaitu :

  1. Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Dinasti Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab Islam. Sedangkan Dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab Islam. Dalam periode pertama dan ketiga pemerintahan Abbasiyah, pengaruh kebudayaan Persia sangat kuat dan pada periode kedua dan keempat bangsa Turki sangat dominan dalam politik dan pemerintahan Dinasti ini.
  2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa Daulat Bani Abbas ada jabatan wazir, yang membawahi kepala-kepala departemen. Jabatan ini tidak ada di dalam pemerintahan Dinasti Bani Umayyah.
  3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas. Sebelumnya, belum ada tentara khusus yang profesional. Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Dinasti Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Dinasti Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalnya, di awal Islam, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat :
  • Maktab / Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agama, seperti : Tafsir, Fiqih, Hadits dan Bahasa.
  • Tingkat pendalaman. Para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umumnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ahli ulama ke sana.

Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Dinasti Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Perkembangan lembaga pendidikan itu mencerminkan terjadinya perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa Arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman Bani Umayyah, maupun sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Disamping itu, kemajuan itu paling tidak, juga ditentukan oleh dua hal yaitu :

  • Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non-Arab banyak yang masuk Islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebagaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.
  • Berpartisipasinya unsur-unsur non-Arab (terutama bangsa Persia) dalam pembinaan peradaban Islam yang mendatangkan kemajuan dalam banyak bidang.
  • Kebijaksanaan Dinasti Bani Abbasiyah yang lebih berorientasi kepada pembangunan peradaban dari pada perluasan wilayah kekuasaan.
  • Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.

2. Periode Kedua (847-945 M)

Periode ini diawali ketika al-Mutawakkil menjadi Khalifah Abbasiyah sampai al-Mukhtaqi. Ia dan para Khalifah penggantinya sangat lemah sehingga orang-orang Turki yang sebelumnya berada dalam unsur militer pada masa Khalifah al-Mu’tasim dapat mengambil alih kekuasaan. Masa ini ditandai dengan bangkitnya pengaruh Turki. Orang-orang Turki memegang jabatan penting dalam pemerintahan, mereka mengangkat sesuai dengan kehendak mereka. Walaupun kemajuan intelektual dan kebudayaan terus berjalan, secara politik kekuasaan Abbasiyah bertambah buruk.

Faktor-faktor penyebab kemunduran Daulat Bani Abbasiyah pada periode ini adalah :

  • Para khalifah tidak memiliki kekuatan dan kewibawaan.
  • Luasnya daerah kekuasaan yang harus dikendalikan, sementara komukasinya lambat.
  • Ketergantungan terhadap militer sangat tinggi.
  • Kesulitan keuangan karena beban pembiayaan tentara sangat besar.
  • Mulculnya beberapa pemberontakan.

3. Periode Ketiga (945-1055 M)

Pada periode ini Dinasti Bani Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Dinasti Buwaihi. Keadaannya lebih buruk dibanding periode sebelumnya, terutama karena Dinasti Buwaihi menganut aliran Syiah. Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Pada periode ini pusat pemerintahan Islam  tidak lagi di Baghdad, tetapi telah dipindahkan ke Syiraz, tempat Ali bin Buwaihi berkuasa. Meskipun begitu, ilmu pengetahuan terus mengalami kemajuan pesat, dengan munculnya para pemikir besar. Selain itu bidang ekonomi, pertanian, dan perdagangan juga mengalami kemajuan.

4. Periode Keempat (1055-1199 M)

Periode ini ditandai olek kekuasaan Bani Saljuk yang berhasil melumpuhkan Bani Buwaihi atas permintaan Khalifah Abbasiyah. Keadaan Khalifah juga membaik karena kewibawaannya dalam bidang agama kembali setelah beberapa lama dikuasai oleh orang-orang Syiah. Kekuasaan Saljuk kemudian melemah setelah adanya konflik-konflik internal, sementara kekuasaan Khalifah mulai kuat kembali, terutama di dalam negeri Irak.

5. Periode Kelima (1199-1258 M)

Pada periode ini Abbasiyah tidak lagi berada dibawah kekuasaan Bani tertentu. Mereka merdeka dan berkuasa di Baghdad. Sempitnya kekuasaan wilayah Abbasiyah ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa-masa inilah datang tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang menghancurkan kekuasaan Abbasiyah tanpa perlawanan berarti.

Dasar-dasar pemerintahan Dinasti Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu-Abbas dan Abu Ja’far al-Manshur, maka puncak keemasan dari Dinasti ini berada pada tujuh Khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775- 786 M), Harun al-Rasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M) (ketiga khalifah tersebut berfaham Jahmiyyah), dan al-Mutawakkil (847-861 M).