METODE DALAM BERTASAWUF

  1. Zuhud

Menurut Al-Ghazali zuhud ialah benci kepada yang disukai dan berpaling kepada yang lebih disukai. Orang yang tidak menginginkan kepada sesuatu selain Allah SWT . Jadi, zuhud diibaratkan kebencian kepada dunia dan berpaling kepada akhirat, atau benci kepada selain Allah dan berpaling hanya kepada-Nya. Zuhud terhadap dunia adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar.

Sebagian yang lain mengatakan zuhud terhadap perkara yang haram adalah suatu kewajiban, sementara zuhud terhadap perkara yang halal adalah suatu keutamaan.

Maka seperti itulah zuhud, yang mengharuskan agar meninggalkan segala yang di zuhudkan secara keseluruhan, yaitu dunia dengan segala isinya, serta sebab-sebabnya. Dengan demikian keluarlah dari hati rasa benci kepada dunia, lalu disusul dengan cinta kepada ketaatan terhadap Allah.

Sikap zuhud yang dilakukan golongan sufi merupakan suatu sikap yang sangat berlebih-lebihan. Untuk itu, Muhammad Rasyid Ridha menyatakan bahwa islam melarang manusia berlebih-lebihan dalam agama dengan memberantas ajaran-ajaran penyiksaan diri demi agama. Hal ini dibuktikan dengan diperkenankannya memakan makanan yang lezat dan memakai perhiasan, asal tidak berlebih-lebihan dan tidak bersikap sombong, seperti diisyaratkan dalam firman Allah SWT berikut ini:

“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah disetiap memasuki masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah : Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkannya untuk hamba-hambanya dan siapapulakah yang mengharamkan rezeki yang baik? Katakanlah : Semuanya itu disediakan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus di hari kiamat. Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”

(QS. Al-A’raf : 31-32)

Juga dalam ayat berikut:

“Wahai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara tidak benar dalam agamamu…….(QS.Al-Maidah :77)

Meskipun larangan yang terdapat dalam ayat tersebut ditujukan kepada ahli kitab, namun bagi kaum muslimin merupakan I’tibar dan peringatan. Kaum muslimin harus bener-benar mengghindarkan diri dari sikap berlebih-lebihan, karena islam merupakan agama rahmat dan tidak berat.

Apabila kita membenci dunia, kita zuhud kepada hal-hal yang bersifat duniawi sehingga kita mengabaikan dan meninggalkannya, sebagaimana yang diajarkan tasawuf, mustahil kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia ini, dan bahkan yang akan didapatkan adalah kemalaratan, kesengsaraan, dan kepunahan. Bahkan di akhirat pun mustahil akan memperoleh kebahagiaan, karena dunia ini adalah sarana dan alat untuk mencapai akhirat, tanpa sarana dunia ini, akhirat tidak mungkin bisa dicapai.

Menurut ajaran islam, orang beriman dituntut supaya bekerja untuk urusan dunia dengan bersungguh-sungguh, mengusahakan kemajuan dan kemakmuran. Tetapi di dalam hatinya bukan sekedar mementingkan dunia, melainkan juga dengan tujuan untuk keselamatan di akhirat. Orang beriman menjadikan dunia ini sebagai tempat menanam untuk kelak mengharapkan hasil panennya di akhirat. Maka agar tujuan itu berhasil, diperlukan kerja dan usaha meskipun demikian, hasil tersebut tidak dapat dipetik seluruhnya di dunia ini, melainkan hanya sebagian saja yang diperoleh di dunia sebab hasil sepenuhnya baru diterima diakhirat nanti.

  1. Wasilah dan Rabithah

Wasilah menurut Al-Jauhir adalah sesuatu yang dapat

mendekatkan kepada yang lain. Sementara menurut hukum islam, wasilah adalah kedekatan kepada Allah dengan menaati dan beribadah kepada-Nya, mengikuti para nabi dan rasul-Nya, dengan semua amal yang dikasihi dan diridhainya.

Wasilah terbagi 2 yaitu :

  1. Wasilah yang disyariatkan (masyru’) adalah setiap wasilah yang diperintahkan Allah dan mendorong kita untuk melaksanakannya. Wasilah seperti ini di jelaskan oleh rasulallah sebagai suatu pendekatan diri kepada Allah dengan taat dan mengerjakan amal-amal shaleh yang disukai yang diridhainya. Wasilah yang disyariatkan itu terbagi 3 yaitu:
  2. Wasilah seorang mu’mun kepada Allah dengan dzat-Nya, nama-Nya dan sifat-Nya yang tinggi.
  3. Wasilah seorang mu’min kepada Allah dengan amal shalehnya.
  4. Wasilah seorang mu,min kepada Allah dengan do’a saudaranya yang mu’min.
  5. Wasilah yang dilarang (mamnu’)

Adapun dasar hukum tentang wasilah tertuang

dalam surat Al-Maidah ayat: 35.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadanya dan berzihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Rabithah adalah perantara antara sufi dengan Tuhannya ialah menghadirkan rupa syeh (pemimpin tasawuf) ketika berdzikir atau berdo’a. Menurut syeh Muhammad bin Abdullah Al-Khani Al-Kalidi dalam bukunya Albahjatus-Saniyah (Hal 43), menghadirkan dengan 6 cara:

  1. Menghadirkan di depan mata dengan sempurna.
  2. Membayangkan di kiri dan kanan, dengan memusatkan perhatian kepada rohaniyahnya sampai terjadi sesuatu yang ghaib.
  3. Menghayalkan rupa guru ditengah-tengah dahi.
  4. Menghadirkan rupa guru di tengah-tengah hati.
  5. Menghayalkan rupa guru di kening kemudian menurunkannya ketengah hati.
  6. Menafikan dirinya dan mentsabitkan (menetapkan) keberadaan syeh.
  1. Uzlah dan Khalwat

Al-Ghazali menjelaskan pengertian uzlah dan khalwat

dalam bukunya ihyaulumuddin antara lain ialah memusatkan diri untuk beribadah, bertafakur, dan merasakan kejinakan hati dengan bermunajat kepada Allah SWT dan menghindarkan diri dari berbicara dan bergaul dengan mahkluk. Hal yang demikian itu tidak dapat dilakukan tanpa memisahkan hati dari kesibukan sehari-hari, dari bercampur baur dengan masyarakat, itulah yang dinamakan uzlah. Sebagian para ahli hikmah berkata tiada bertekunlah seseorang dalam khilwahnya, kecuali dengan berpegang teguh dengan kitab Allah. Jalan satu-satunya untuk bertafakur dan berdzikir semacam itu, mereka harus mengasingkan diri (uzlah) dari masyarakat.

Pada umumnya orang-orang lebih banyak mempergunakan uzlah untuk berdzikir dan bercakap-cakap dengan Allah. Para hukama menyatakan bahwa mereka memilih khalwat dan uzlah untuk memusatkan pemikiran dan ilmu dalam hati, sehingga merasakan kemanisan ma’rifat kepada Allah.

Berkhalawat sudah dilakukan orang sejak zaman Nabi Musa, dan syariat Nabi Musa tentang khalwat ini masih berlaku sampai kepada nabi kita Muhammad. Maka hal ini belum mansukh.

Menurut hadits bukhari dan muslim mutafaqunalaih dari Abu Hurairah, dan Nabi Saw bersabda:”Ada 7 orang yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, seorang anak muda yang pada masa remajanya beribadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya tersangkut ke mesjid, 2 orang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai karena Allah serta keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, laki-laki yang dirayu oleh seorang wanita yang berparas cantik (untuk melakukan perbuatan maksiat) dia menolak dan berkata: Aku takut kepada Allah , seorang laki-laki yang bersedekah, kemudian disembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang dilakukan tangan kanannya, seorang laki-laki yang berdzikr kepada Allah ditempat sunyi (berkhalwat) lantas kedua matanya mencucurkan air mata.

Dalam hadits ini diterangkan bahwa salah seorang yang akan mendapat naungan Allah nanti pada hari kiamat adalah orang yang berdzikir kepada Allah dengan berkhalwat.

Sebagian ahli hadits menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kata khalian ialah berdzikir sendirian, jauh dari khalayak ramai.Hal itu dimaksudkan selain untuk menghindarkan riya, juga lebih membulatkan konsentrasi berdzikir kepada Allah.

Dalil yang menguatkan pendapat ini antara lain hadits riwayat Ibnu Mubarak dan Muhammad bin Zaid dengan susunan kalimat zakarallahkhalian. Sebagian ahli hadits menyatakan maksud khalian (sunyi) dalam hadits itu ialah sunyi dari perhatian selain kepada Allah, meskipun berdzikir itu dilakukan ditempat ramai.

Adapun disukai berhkalawat selama 40 hari adalah karena nabi bersabda barang siapa beramal dengan ikhlas karena Allah selama 40 hari, niscaya terpancarlah sumber-sumber hikmah dari hatinya  ke lidahnya (H. R. Ahmad dan Ibnu Adi)

Berdasarkan uraian tersebut, maka golongan sufi berpendapat bahwa uzlah dan khalwat yang mereka amalkan berasal dari contoh yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdillah, yaitu ketika ia bertahannuts di Gua Hira, sebelum ia mendapatkan wahyu yang pertama. Di samping katanya mencontoh khalwat nabi Musa a. s.